KATEKESE UMAT Masa Adven 2024

 Kelompok Umat Basis

 PENGANTAR

„Marilah sekarang kita pergi ke Bethlehem...“, itulah tema utama pesan Natal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)  tahun 2024. Seperti para gembala itu, kita sebagai satu kawanan umat Allah dipanggil untuk bersama-sama menjumpai Yesus, yang mengampuni, menyembuhkan, peduli pada orang yang dikucilkan, dan terpinggirkan. Perjumpaan yang sejati dan tulus membuat kita menerima kekuatan dari Yesus untuk memberikan kesaksian dalam bentuk “memuji dan memuliakan Allah”.

Memuliakan Allah dapat kita laksanakan dalam tindakan yang menghadirkan kasihNya, di tengah keluarga, KUB, Gereja, masyarakat dan bangsa. Kasih kepada sesama manusia itu menjadi konkret dalam tindakan saling menghormati, menghargai, menguatkan, dan membangun persahabatan antar manusia. Maka, perayaan Natal sungguh mendorong kita untuk berjalan bersama dalam iman, persaudaraan dan belarasa.

Seperti biasa, menjelang Natal, kita selalu mengadakan pertemuan umat di KUB-KUB dalam bentuk katekese umat/sharing iman bersama, sebagai salah satu persiapan menyambut Natal. Sesuai amanat MUSPAS VIII dan Surat Gembala Adven 2024 dari Yang Mulia Bapa Uskup Agung Ende, pertemuan katekese dan sharing iman kali ini, kita bingkai dalam nuansa kasih persaudaraan. Kita akan merenung, berbicara dan mengambil tindakan nyata bersama untuk kebaikan anak-anak, ibu hamil, pasangan yang belum menikah dan kepada korban perdagangan orang.

Selamat menjalankan masa Adven dan selamat bertukar pengalaman iman.


***

 

BEBERAPA PETUNJUK PRAKTIS UNTUK FASILITATOR

Pada prinsipnya Katekese Umat adalah komunikasi iman yang seimbang dan sejajar antar semua yang hadir; bukan sebuah komunikasi guru – murid. Hal itu sedapat mungkin nampak dalam beberapa hal praktis yang dapat dibuat selama kegiatan katekese:

a.    Seandainya memungkinkan, maka sangat dianjurkan agar semua yang hadir duduk membentuk lingkaran atau setidaknya setengah lingkaran. Posisi duduk guru – murid seperti dalam kelas sedapat mungkin dihindari.

b.    Fasilitator hendaknya membedakan diri dengan narasumber. Fasilitator adalah pelancar yang mempermudah pertemuan dan karena itu hendaknya tidak dalam posisi menggurui. Ia duduk di antara para peserta dan menjadi salah satu peserta sharing dengan tugas tambahan sebagai pelancar.

c.     “Gagasan Pokok” dalam setiap pertemuan BUKAN untuk dibacakan saat Katekese Umat berlangsung, melainkan hanya sebagai pegangan atau pengetahuan dasar untuk Fasilitator. Karena itu, sangat dianjurkan agar Gagasan Pokok sudah dibaca oleh Fasilitator sebelum pertemuan, sebagai persiapan untuk memperlancar proses pertemuan.

d.    Ada kesan yang cukup kuat, bahwa pertemuan Katekese Umat menjadi semacam Ibadat Sabda. Tanpa bermaksud mengurangi unsur-unsur doa di dalamnya, alangkah baiknya Katekese Umat dibuat senyaman mungkin sebagai bincang-bincang atau komunikasi iman dan bukan Ibadat Sabda.

Secara praktis misalnya dapat ditempuh jalan berikut:

Setelah doa pembuka, Fasilitator dapat langsung membuat Tanda Salib untuk menutup bagian pembuka. Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Suci, Sharing Pengalaman dan Rencana Tindak Lanjut.  Setelah Rencanaa Tindak Lanjut, Fasilitator bersama dengan umat dapat membuat Tanda Salib lagi, lalu Doa Umat secara spontan (jika ada), dilanjutkan dengan Bapa Kami dan Doa Penutup.

  1. RTL atau Rencana Tindak Lanjut adalah hal yang tidak terpisahkan dari proses Katekese dan karena itu perlu direncanakan dan dilaksanakan. Rencana Tindak Lanjut berisi hal-hal konkret atau nyata yang berasal dari sharing bersama dalam katekese.
  2. Untuk mengaktifkan sebanyak mungkin orang selama pertemuan, dapat dibuat hal-hal praktis misalnya: teks Kitab Suci dibaca bersama atau bergiliran (satu orang satu ayat), setelah pembacaan Kitab Suci, dapat diberi kesempatan kepada masing-masing orang untuk mendalami bacaan secara pribadi, atau sharing berdua-dua, lalu dilanjutkan dengan sharing umum.
  3. Sangat dianjurkan juga penggunakan media-media yang sesuai, misalnya gambar atau video dari Youtube, teristimewa dalam pertemuan anak – remaja dan OMK. Tentu gambar atau video yang dipilih kiranya cocok dengan tema yang direnungkan.

 

 

Terima kasih.

 

Puspas KAE, Desember 2024

Tim Penyusun

Komisi Kateketik KAE


Pertemuan I

KUB dan Gereja Yang Ramah Anak

Teks Inspirasi: Yesaya 9: 1-6

 GAGASAN POKOK (Sebagai pegangan bagi fasilitator)

Melihat

Banyak anak, banyak rezeki. Ini ungkapan tua yang sudah kita kenal. Mungkin kuno kedengarannya, dan tidak lagi cocok untuk sebagian orang. Namun, haruslah diakui: anak adalah karunia dan berkat Allah. Kehadiran anak membawa kegembiraan dan harapan bagi keluarga, bagi Gereja dan masyarakat. Anak dapat menjadi pengikat hubungan antara suami dan isteri, menjadi penerus iman di masa depan, serta menjadi generasi pembawa harapan bagi masyarakat.

Namun, kita tidak bisa menolak, bahwa masih terjadi banyak tindak kekerasan terhadap anak. Kekerasan fisik terhadap anak (pukul atau siksaan), kekerasan verbal/kata-kata (marah, makian), kekerasan seksual (pelecehan dan pemerkosaan), pengabaian dan penelantaran hak anak (mengabaikan pendidikan anak, kurang mendampingi mereka dalam hidup); semuanya itu hanyalah sebagian tanda, bahwa kita kurang “ramah” terhadap anak.

 

Memahami

Bacaan kitab Nabi Yesaya, yang biasa kita dengarkan pada Malam Natal, menggambarkan kepada kita kehadiran seorang anak. „Seorang anak telah dilahirkan bagi kita, seorang putra telah diberikan kepada kita“. Kehadiran Sang Putra membawa serta banyak hal baik: damai, kesejahteraan, keadilan dan kebenaran. KehadiranNya adalah tanda nyata kasih karunia Allah bagi hidup kita. Kehadiranya membebaskan dan menguduskan.

Yang diperlukan dari setiap manusia adalah sikap hati, seperti yang ditunjukkan oleh para malaikat dan para gembala. Para malaikat mengingatkan agar manusia tidak takut menerima kehadiran Sang Putra, karena Dia membawa keselamatan bagi semua. Malaikat juga meminta manusia untuk pergi dan menjumpai Sang Putra: menyambut kehadiran anak dengan ramah dan sukacita. Malaikat juga memuji Allah karena Sang Putra hadir di bumi membawa damai sejahtera.

 

Menghidupi

Yang Mulia Bapa Uskup Agung Ende, dalam Surat Gembala Adven dan Natal 2024, mengajak kita umat Keuskupan Agung Ende, untuk bersama-sama bergerak menjadikan diri kita sebagai Gereja dan masyarakat yang ramah pada anak. Yesus yang dijumpai di dalam sosok seorang anak mengundang kita untuk memberikan perhatian khusus kepada anak-anak. Anak selalu memerlukan perlindungan dan membutuhkan pendampingan penuh kasih. Hal ini bukan hanya merupakan tanggungjawab orangtua, tetapi semua kita, sebagai warga masyarakat dan anggota Gereja.

Kita perlu membulatkan tekad kita untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi anak-anak, mencegah mereka dari segala bentuk tindak kekerasan yang meninggalkan luka yang mendalam dan merusakkan kebahagiaan masa kanak-kanak mereka. Secara tegas kita harus mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak. Bentuk kepedulian lain nampak dalam usaha supaya anak mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan yang memadai. Kepedulian terhadap anak harus menjadi bagian dari kebudayaan kita. Hal ini hanya dapat terwujud apabila ada kerjasama yang baik antara keluarga, pemerintah dan lembaga-lembaga lain seperti Gereja.

 

 PELAKSANAAN PERTEMUAN

1.  Pengantar oleh Fasilitator

Bapak, Ibu, saudara-saudari terkasih,

Dalam pertemuan pertama katekese masa Adventus 2024 ini kita hendak berbicara tentang KUB Dan Gereja Yang Ramah Anak. Tema ini adalah hal pertama yang ditekankan dalam Surat Gembala Adven 2024 dari Yang Mulia Bapa Uskup Agung Ende. Kita diajak untuk sama-sama melihat perlakuan kita terhadap anak-anak, teristimewa yang ada di dalam KUB kita ini, dan hal apa saja yang dapat kita lakukan, demi menciptakan kondisi KUB yang ramah terhadap anak-anak. Mari kita awali pertemuan iman malam ini dengan lagu pembuka.

2.  Lagu Pembuka: Madah Bakti. no. 316,  Marilah Bersukacita

3.  Tanda Salib dan Salam

4.  Doa Pembuka

Allah yang Mahakasih, pada kesempatan ini kami berkumpul bersama, untuk saling membagi pengalaman iman dan menguatkan satu sama lain. Pada kesempatan ini kami akan berbicara bersama tentang anak-anak di dalam keluarga dan KUB yang engkau percayakan kepada kami. Semoga kami selalu menaruh kasih dan ramah terhadap mereka, sebagaimana PutraMu sendiri selalu mendatangkan berkat bagi anak-anak. Dialah Tuhan dan pengantara kami, sepanjang segala masa. Amin.

5.  Bacaan Kitab Suci: Yesaya 9: 1-6 (dapat dibacakan ayat-ayatnya secara bergantian).

6.  Pendalaman Kitab Suci

Sekarang kita bersama-sama mendalami isi kitab suci yang baru saja kita baca. Beberapa pertanyaan berikut kiranya dapat menuntun kita dalam proses pendalaman:

a.    Hal apa saja yang disampaikan oleh Yesaya dalam bacaan tadi? (Tentang terang yang membawa sukacita dan tentang seorang putra yang dilahirkan bagi dunia).

b.    Apa yang dibawa serta oleh putra yang dilahirkan itu? (Kekuasaan, nasihat, damai, sukacita, keadilan, kebenaran).

c.     Hal apa yang dapat dilakukan saat manusia mendapatkan karunia seorang anak seperti itu ? (sukacita, sorak-sorai, gembira, syukur).

7.  Sharing pengalaman hidup

Saudara-saudari terkasih…

Kita telah mendalami teks kitab suci tadi dan kini mari kita saling membagi pengalaman iman. Bacaan suci memberi kepada kita terang, bagaimana sikap dan tanggungjawab kita terhadap anak-anak yang dihadirkan Allah di tengah-tengah keluarga dan KUB kita.

Beberapa pertanyaan penuntun:

a.    Apakah pernah terjadi di keluarga dan KUB kita tindakan kasar atau pelecehan pada anak-anak (melalui kata-kata kasar, tindakan fisik, kekerasan seksual atau juga perlakuan lainnya)? Ceritakanlah!

b.    Mengapa kita ramah hendaknya ramah terhadap anak di dalam keluarga?

c.     Ceritakah contoh-contoh nyata, bagaimana cara kita bersikap ramah terhadap anak di dalam keluarga dan KUB kita!

8.  Rencana Tindak Lanjut

Fasilitator dapat mengajak peserta pertemuan untuk menentukan bersama, tindakan-tindakan nyata yang dapat dilakukan sebagai langkah untuk menjadi KUB yang ramah anak. Alangkah baik jika dibuat konkrit, dengan waktu yang jelas dan terukur. RTL ini hendaknya nanti dimasukkan dalam format evaluasi katekese.

9.  Penegasan oleh Fasilitator

Fasilitator kembali menggarisbawahi beberapa hal penting terkait KUB ramah anak seperti menghormati anak sebagai karunia, menghindarkan kekerasan terhadap anak, juga melakukan hal-hal positif yang berkaitan dengan menjaga dan merawat anak dalam lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.

10.        Doa Penutup

Ya Allah yang maharahim, terima kasih kami haturkan kepadaMu atas bimbinganMu selama pertemuan ini. Semoga kekuatan yang kami terima dari sabda, doa dan sharing pengalaman iman, memampukan kami untuk bersikap ramah, lemah lembut dan baik kepada anak-anak yang telah Engkau percayakan kepada kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

11.  Lagu Penutup: Madah Bakti, no. 321, Ya Tuhan


Pertemuan II

 KUB Peduli Ibu Hamil

Teks Inspirasi: Lukas 2: 1-8, 15-17

 GAGASAN POKOK (Sebagai pegangan bagi fasilitator)

Melihat

Hadirnya janin dalam kandungan, kelahiran bayi, dan menyusui anak dari buah dadanya sendiri adalah kemuliaan seorang ibu. Hanya ibu yang memiliki keistimewaan seperti itu. Karena itu tidaklah mengherankan jika banyak keluarga merasa sangat berbahagia, jika mengetahui bahwa anggota keluarga mereka sedang hamil dan menantikan kelahiran seorang anak.

Di sisi lain, dalam situasi tertentu, ada juga peristiwa kehamilan dan kelahiran yang dianggap sebagai beban oleh seorang perempuan atau pun oleh pasangannya. Kehamilan dan bayi yang dilahirkan dilihat sebagai beban, bahkan aib bagi diri dan keluarga. Akibatnya, perempuan yang hamil diusir dari keluarga, terjadi pengguguran paksa bahkan bayi yang lahir dibuang dan dibiarkan meninggal.

Memahami

Sesungguhnya, peristiwa hamil dan melahirkan terjadi atas kehendak Allah. Kitab Kejadian menulis: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:  "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi ....”. (Kej. 1: 27-28). Bayi yang lahir merupakan buah cinta sejati perempuan dan lelaki, dan terjadi atas kehendak Allah sendiri, dalam naungan kasihNya yang abadi.

Allah yang memanggil dan memilih perempuan untuk hamil dan melahirkan. Pengalaman Bunda Maria, ibu Yesus, menjadi bukti (Luk 1:26-38). Perawan Maria dipilih  Allah untuk melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Yesus, disebut Anak Allah Yang Maha tinggi….. kepada-Nya diberi takhta Daud, bapa leluhur-Nya, menjadi raja atas kaum keturunan Yakub dan Kerajaan-Nya tak berkesudahan,…yang kudus, anak Allah (ay. 30-33.35). Seperti halnya janin Maria, setiap janin telah ditetapkan Tuhan dengan peran, bakat dan pembawaan yang pasti serta jalan dan arah hidupnya telah ditetapkan Allah.

Sayangnya, dalam hidup, seringkali orang tidak menghargai kehadiran ibu hamil dan perjuangan mereka. Injil Lukas memberi gambaran tentang keluarga Yosef dan Maria yang harus berjalan jauh ke Bethlehem, walaupun Maria sedang hamil dan segera melahirkan. Tanggapan orang-orang di Bethlehem juga dingin. “Tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan..”, begitu kata Lukas. Sehingga ibu hamil ini pun akhirnya melahirkan di kandang hewan. Hanya ada satu kelompok yang peduli: para gembala. Mereka pergi menemui keluarga kudus itu, dan berbagi cerita dengan mereka.

 

Menghidupi

Tuhan meghendaki kita untuk peduli terhadap perempuan yang hamil dan melahirkan. Perhatian dan kepedulian kita dapat membantu menyelamatkan nyawa ibu dan anak dan akhirnya akan membawa kebahagiaan. Hal yang sama juga ditegaskan oleh Yang Mulia Bapa Uskup Agung Ende, dalam Surat Gembala Adven dan Natal 2024. Bapa Uskup menegaskan kembali apa yang diminta oleh Muspas VIII Keuskupan Agung Ende. Gerakan Peduli Hamil sebagai salah satu langkah bersama untuk memberikan perlindungan terhadap anak dan ibunya, dan menjamin masa depan yang baik anak yang bersangkutan.

Di paroki-paroki kita telah diambil sejumlah inisiatif untuk telah mewujudkan gerakan ini. Ada paroki yang merayakan misa khusus bagi ibu hamil bersama keluarganya, menyelenggarakan pemberkatan bagi ibu hamil, pemeriksaan kesehatan rutin bagi ibu hamil, serta kegiatan-kegiatan lain yang mendukung agar ibu hamil akhirnya dapat melahirkan dengan lancar dan selamat.

Seperti para gembala, kita juga diajak dalam KUB-KUB kita, untuk peduli pada ibu-ibu hamil yang ada di sekitar rumah kita, dengan hal-hal praktis yang dapat kita buat: tidak melakukan kekerasan terhadap mereka, memastikan bahwa ibu hamil mendapat gizi yang memadai, mendorong ibu hamil untuk memeriksa kehamilan secara teratur ke fasilitas kesehatan, dan sebagainya.

 

PELAKSANAAN PERTEMUAN

 

1.  Pengantar oleh Fasilitator

F: Bapak Ibu, Saudara, Saudari terkasih...

Selamat bertemu kembali! Kita bertemu kembali di saat ini dalam pertemuan iman, katekese umat atau sharing pengalaman iman ini. Kali lalu, kita telah cerita-cerita bersama dengan tema: Menjadi KUB dan Gereja yang ramah anak. Malam ini kita akan omong-omong tema kedua yaitu: KUB Peduli Ibu Hamil.

Kita tahu bersama-sama bahwa Muspas VIII Keuskupan Agung Ende di tahun 2021, telah menetapkan KELUARGA  sebagai prioritas pastoral. Keluarga yang baik dan sehat, baik dalam hal iman, dalam hal ekonomi dan dalam hidup sosial, itulah yang kita inginkan bersama. Sebagai tindak lanjut dari perhatian kepada keluarga ini, Muspas juga menyepakati adanya dukungan terhadap anggota keluarga: terhadap anak-anak, orang muda dan juga pasangan suami isteri. GERAKAN MENDUKUNG IBU HAMIL adalah salah satu yang bisa dibuat.

Mari kita awali pertemuan ini dengan lagu pembuka.

2.  Lagu Pembuka, Madah Bakti no. 549: Bunda Allah tak bercela.

3.  Tanda Salib dan Salam

4.  Doa Pembuka

Ya Allah, Bapa Yang Maha Kuasa. Malam ini kami umat duduk bersama mau mendengar dan memahami misteri kasih-Mu, yang diberi melalui keluarga. Engkau memanggil suami-istri untuk bersama Engkau melanjutkan generasi manusia yang sesuai gambar dan rupa-Mu. Utuslah Roh Kudus-Mu, membimbing para suami-istri, setiap keluarga, dan setiap umat dalam KUB, agar memberi perhatian akan kesehatan ibu dan anak, mulai dari dalam kandungan hingga pada waktu kelahiran. Doa ini kami sampaikan kepada-Mu, ya Bapa dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.    

5.  Bacaan Kitab Suci: Lukas 2: 1-8, 15-17 (Alangkah baik dibacakan bersama, atau bergantian antar ayat.)

6.  Pendalaman Kitab Suci

F: Bapak Ibu Saudara Saudari...

Kita telah bersama mendengar bacaan dari Injil Lukas. Mari kita mendalami bersama teks ini. Beberapa pertanyaan ini bisa menjadi panduan bagi kita.

a.    Siapakah para pelaku dalam bacaan tadi? (Kaisar Agustus, Yosef, Maria, para gembala).

b.    Bagaimana kondisi Maria saat harus berangkat ke Bethlehem dan apa yang terjadi di Bethlehem? (Maria dalam keadaan mengandung, tidak mendapat tempat di rumah penginapan, melahirkan di kandang).

c.     Bagaimana reaksi para gembala, setelah mendengar kabar malaikat? (Mereka pergi menemui Yosef, Maria dan bayi Yesus dan berbagi cerita bersama mereka).

7.  Sharing Pengalaman

F: Setelah mendengar dan mendalami bacaan tentang keluarga Yosef dan Maria yang sedang mengandung, mari kita bercerita tentang situasi di KUB kita dalam terang Sabda Tuhan tadi. Kita dituntun oleh panduan berikut:

a.    Ceritakanlah apa yang selama ini telah kita buat jika ada ibu hamil di dalam KUB kita!

b.    Kira-kira hal apa saja yang dapat kita buat, untuk membantu ibu hamil, suami dan keluarganya sebagai tanda bahwa kita peduli dan mendukung mereka?

8.  Rencana Tindak Lanjut

Bersama semua peserta, fasilitator dapat menentukan bersama aksi-aksi nyata yang akan dibuat, dalam rangka mendukung ibu hamil dan keluarga yang memiliki ibu hamil.

9.  Penegasan oleh Fasilitator

Sebagai penutup dari pertemuan, Fasilitator dapat menegaskan beberapa hal seperti: semua anggota KUB memahami bahwa hamil dan melahirkan adalah anugerah yang paling istimewa dan mulia bagi seorang ibu. Seorang ibu yang hamil dan melahirkan sesungguhnya dipanggil dan dipilih oleh Allah demi kelanjutan generasi manusia. Karena hamil adalah anugerah dan bukan hukuman, maka peserta kiranya sadar  dan ikut serta ambil bagian dalam membantu menjaga kesehatan dan keselamatan seorang perempuan sejak hamil, bersalin, dan menjalani masa nifas.

10.       Doa Penutup

F: Sebagai doa penutup, mari kita mendaraskan nyanyian pujian Maria, dari Lukas 1: 46-55. Kita doakan ayatnya secara bergantian.

11. Lagu Penutup, Madah Bakti no. 538, Perawan Pilihan Allah



Pertemuan III

Martabat Sakramen Perkawinan Katolik

GAGASAN POKOK (sebagai pegangan bagi fasilitator)

Melihat

Sakramen Perkawinan dalam Gereja Katolik merupakan hal yang luhur dan bermartabat. Anjuran Apostolik Familiaris Consortio artikel 56 menegaskan bahwa Sakramen Perkawinan merupakan sumber istimewa bagi hidup suami dan istri. Melalui Sakramen Perkawinan suami istri menghayati cinta kasih mereka, yang dimurnikan dan dikuduskan oleh materai Sakramen. Cinta kasih itu oleh Tuhan dipandang layak dianugerahi rahmat yang menyembuhkan dan menyempurnakan.

Suami istri Katolik harus hidup dalam ikatan Sakramen Perkawinan. Ini adalah tanggapan atas cinta kasih Allah yang mempersatukan keduanya. Sakramen Perkawinan bagi suami dan istri merupakan mahkota kasih Allah sendiri. Sakramen ini menyempurnakan dan menguduskan cinta kasih suami dan isteri. Keluarga yang terbentuk melalui Sakramen Perkawinan menjadi Gereja pertama yang menumbuhkan nilai-nilai iman dalam kehidupan.

Akan tetapi di sekitar kita, di Keuskupan, Paroki, Stasi. Lingkungan dan KUB masih ada begitu banyak pasangan, teristimewa pasangan muda, yang belum terikat dalam Sakramen Perkawinan. Banyak pasangan yang belum menikah resmi dalam Gereja.  Terdapat banyak kendala yang mereka hadapi seperti: urusan adat istiadat, masalah perantauan, KDRT, kesulitan ekonomi, paksaan dari pihak lain, kurangnya pendampingan Gereja dan sebagainya. Situasi sulit demikian membuat pasangan suami istri tersebut memilih kawin pintas. Maka sebagai warga Gereja kita dipanggil untuk bersama-sama mencari jalan keluar dan membantu mereka.

 

 

 

Memahami

Bacaan Injil Mat. 1:18-24 berkisah tentang peristiwa seputar kelahiran Yesus Kristus. Santo Yosep dan Santa Perawan Maria dapat kita jadikan sebagai model cinta kasih sejati suami dan istri. Keduanya menanggapi kasih Allah dengan setia satu sama lain dan mencintai kehendak Allah. Santo Yosep yang awalnya bingung dengan kahamilan Maria berniat untuk menceraikan istrinya diam-diam. Namun setelah diingatkan oleh Malaikat Tuhan dalam mimpi dia mengurungkan niatnya. Dia memilih taat kepada Allah dan mengambil Maria menjadi istrinya.

Para Pasutri Kawin pintas kiranya perlu dibantu untuk menemukan kehendak Allah yang secara istimewa akan mereka alami dalam Sakramen Perkawinan. Mereka perlu menyadari karunia istimewa dalam Sakramen Perkawinan di tengah segala macam kendala yang dialami. Harus mengambil sikap untuk mengutamakan cinta Allah dalam materai Sakramen Perkawinan. Pasutri Katolik harus berjuang agar relasi cinta mereka boleh diteguhkan oleh Allah sendiri lewat materai sakramental.

Sementara itu, keluarga dan pihak-pihak lain, juga kiranya menyadari bahwa cinta kasih jangan sampai dihalangi oleh berbagai urusan yang membebankan. Dukungan terhadap pasutri kawin pintas, dibuat dengan cara membantu menyelesaikan persoalan mereka, bukan menambah masalah baru.

 

 

 

Menghidupi

Yang Mulia Uskup Agung Ende dalam Surat Gembala Adven 2024 menyampaikan harapannya tentang persoalan kawin pintas di Keuskupan kita. Semua warga Keuskupan Agung Ende perlu bergerak bersama mencari penyelesaian bagi pasangan hidup bersama yang belum menikah. Salah satu, dari sekian banyakmasalah pastoral keluarga yang ada di wilayah Keuskupan kita, adalah banyak laki-laki dan perempuan Katolik hidup bersama tanpa ikatan perkawinan menurut tata aturan Gereja Katolik.

Sebagai sesama umat dan warga masyarakat kita mengenal saudara-saudari kita yang hidup bersama namun belum menikah. Kita tahu sudah berapa lama mereka hidup bursama, berapa anak yang dikaruniakan kepada mereka. Tentu ada banyak alasan bagi saudara-saudari kita ini. Bapa Uskup mengajak semua pihak, para pasangan yang hidup dalam situasi ini, orang tua, para tua adat, pemerintah dan para petugas pastoral untuk mencari penyelesaian supaya pernikahan mereka dapat disahkan menurut norma Gereja.

 

PELAKSANAAN PERTEMUAN

1.  Pengantar dari Fasilitator

F: Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang terkasih

Dalam pertemuan ketiga Katekese Adven 2024 kita hendak berbicara tentang Martabat Sakramen Perkawinan Katolik. Tema ini adalah hal ketiga yang ditekankan dalam Surat Gembala Adventus 2024 dari Yang Mulia Uskup Agung Ende. Kita diajak untuk melihat fenomena kawin pintas, mencari akar masalahnya dan membantu pasangan-pasangan kawin pintas yang ada di KUB kita ini. Mari kita awali pertemuan iman malam ini dengan menyanyikan lagu pembuka.

2.  Lagu Pembuka: Madah Bakti, No. 327, Terpilih Bunda Maria

3.  Tanda Salib dan Salam

4.  Doa Pembuka

Allah yang mahamurah sudah sejak semula Engkau menghendaki agar pria dan wanita dipersatukan dalam cinta kasih. Melalui Sakramen Perkawinan yang luhur Engkau memeteraikan cinta-Mu sendiri bagi suami dan istri Katolik. Pada kesempatan ini kami hendak berbicara tentang martabat Sakramen Perkawinan, masalah Kawin pintas dan mencari solusi bersama atas persoalan ini. Semoga Engkau membantu kami, agar apa yang kami bicarakan pada kesempatan ini boleh berjalan sesuai kehendak-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

5.  Bacaan Kitab Suci: Mat. 1:18-24

6.  Pendalaman Kitab Suci

F: Sekarang mari kita bersama-sama mendalami isi kitab suci yang baru saja kita baca. Beberapa pertanyaan berikut kiranya dalpat menuntun kita dalam proses pendalaman.

  • Hal apa yang disampaikan dalam injil tadi? (Peristiwa seputar kelahiran Yesus)
  • Apa yang pertama-tama dibuat Santu Yosef setelah mengetahui istrinya sedang mengandung? (Dia hendak menceraikan istrinya secara diam-diam)
  • Apa yang dibuat Santu Yosef setelah diingatkan oleh Malaikat dalam mimpinya? (Dia mengambil Maria sebagai istrinya)
  • Apakah Santu Yosef sungguh taat kepad Allah? (ya, Santu Yosef sangat taat, setia dan bertanggung jawab atas apa yang Tuhan nyatakan kepadanya. Dia menjadi kepala Keluarga Kudus Nazaret yang luar biasa)

 

 

7.  Sharing pengalaman hidup

F: Dengan berbekal isi kitab suci yang baru saja kita dalami, mari kita bersama bercerita, tentang pengalaman hidup kita, terutama dalam kaitan dengan pasutri kawin pintas.

  • Apakah ada Pasutri kawin pintas di KUB kita?
  • Ceritakanlah, alasan mendasar apa sehingga masih ada umat kita yang perkawinannya belum diteguhkan dalam Sakramen Perkawinan?
  • Sejauh yang kita tahu, sudah sejauh usaha Gereja, lembaga adat-istiadat dan pemerintah dalam mengurus masalah kawin pintas?
  • Kira-kira apa yang dapat kita perbuat sebagai gerakan bersama dalam KUB ini untuk mengatasi persoalan kawin pintas?

8.  Rencana Tindak Lanjut

Bersama dengan peserta pertemuan, fasilitator dapat berbicara bersama tentang usaha-usaha praktis untuk membantu menyelesaikan masalah kawin pintas, teristimewa dalam KUB.

9.  Penegasan Fasilitator

Fasilitator dapat kembali menegaskan pentingnya Sakramen Perkawinan dan nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya, lalu melihat persoalan kawin pintas yang ada di wilayah paroki atau juga KUB dan berjuang mengambil jalan keluar untuk mengatasinya sebagai gerakan bersama.

10.       Doa Penutup

Ya Allah mahabaik syukur kepadaMu atas penyertaan yang boleh kami alami selama pertemuan ini. Semoga sharing iman atas persoalan kawin pintas boleh meneguhkan kami. Kiranya kami Engkau mampukan bergerak bersama mencari cara-cara untuk menyelesaikan persoalan ini, sehingga kebaikan-Mu yang nampak dalam Sakramen Perkawinan boleh menjadi nyata dalam setiap keluarga Katolik di KUB ini. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

11. Lagu Penutup:  Madah Bakti, No. 317, Hanya Pada-Mu Tuhan


Pertemuan IV

Gereja Melawan Tindak Perdangangan Orang

Teks Inspirasi: Mat. 1:13-18


GAGASAN POKOK (Sebagai pegangan bagi fasilitator)

Melihat

Di masa Adven dan Natal tahun 2024 ini, sebagai umat katolik, terutama orang beriman Keuskupan Agung Ende, kita diminta untuk melihat, menyimak sekaligus terlibat aktif dalam memberantas persoalan-persoalan yang mengganggu kehidupan kita baik secara pribadi maupun kelompok. Salah satunya adalah persoalan tentang perdangangan orang (Human Trafficking).

a)    Ketua Komnas HAM Atnike Nova Sigiro, saat mengadakan peluncuran Kajian TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) Komnas HAM 2023 dan High-level Dialogue yang diselenggarakan di Labuan Bajo, Kamis 27/6/2024 dalam Kompas.com mengatakan bahwa: “Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM menegaskan kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) NTT sangat memprihatinkan. Sebab, kasus kematian pekerja migran Indonesia (PMI) asal NTT di luar negeri terus meningkat.” Tercatat dalam data Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) tahun 2020-2024, setidaknya sebanyak 3.700 pekerja migran Indonesia menjadi korban TPPO di wilayah Asean. Angka tersebut signifikan dari 752 kasus pada tahun 2022. Jadi ada kenaikan hampir 3.000 kasus yang memprihatinkan dan juga mengkhawatirkan, imbuhnya.” Lebih lanjut, Sigiro, melihat bahwa dari jumlah tersebut sedikitnya ada 657 pekerja migran Indonesia asal NTT yang dipulangkan dalam kondisi tak bernyawa.

b)   Kupang (ANTARA)-Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT menyebutkan 185 orang pekerja asal NTT telah menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang direkrut secara tidak prosedural untuk bekerja di luar negeri dalam enam bulan di tahun 2023.

Data ini mau menunjukkan bahwa hanya karena uang atau mamon, keserakahan, harta dan kekuasaan mata hati kita (nurani) tertutup rapat untuk menghargai martabat orang lain. Apakah kita tetap membiarkan kasus ini tetap menimpa saudara/ri, keluarga dan sahabat-kenalan kita? Sebagai orang yang beriman, kita harusnya lebih peka dan peduli terhadap persoalan ini dan berjuang agar kita semua tidak menjadi pelaku atau korban. Cara memberantasnya tentu yang paling pertama dan utama adalah menanamkan nilai-nilai injil kepada anak-anak dan keluarga kita di rumah. Mengajarkan anak-anak kita untuk peduli dan menghargai orang lain sebagai makhluk yang semartabat dengan kita.

 

Memahami

Kini kita memasuki masa Adventus, masa dimana kita menanti kelahiran Yesus Kristus sang Juruselamat dunia. Peristiwa iman ini menjadi inspirasi baru untuk menenun kembali harapan-harapan kita dengan penuh sukacita. Teks Mat. 1:13-18 bercerita kepada kita tentang Maria dan Yosef  membawa Yesus menyingkir ke Mesir. Penyingkiran ini dilakukan demi keselamatan Yesus anak mereka. Kedua orang tuanya telah mengambil tindakan dan keputusan yang sangat mulia. Suatu tindakan yang menyelamatkan, membebaskan dan menghancurkan segala bentuk kejahatan dari seorang Herodes yang kala itu menjadi penguasa di Betlehem. Herodes merasa kekuasaannya akan berakhir dengan kelahiran Yesus sang Raja sejati. Lebih dari pada itu, Yesus dianggap sebagai malapetaka bagi dirinya. Harta, kekuasaan dan kehormatannya akan lenyap, sebab itu, Yesus harus dibunuh.

 

Menghidupi

Memasuki masa Adven tahun 2024, Bapa Uskup Agung Ende, melalui surat gembalanya menyuarakan empat hal untuk diperhatikan secara serius. Hal keemoat yang harus diperhatikan adalah bahwa Gereja bergerak bersama melawan tindak pidana perdagangan orang (human trafficking). Gereja diharapkan menjadi pasukan terdepan untuk terlibat secara aktif dalam memberantas masalah ini. Partisipasi aktif dari berbagai pihak – tokoh masyarakat, tokoh adat dan pihak pemerintah – agar lebih giat dan sungguh-sungguh melihat persoalan ini, tentu sangat diharapkan.  

Lebih dari pada itu, orang tua menjadi pelaku pertama dan utama untuk menjaga dan melindungi anak-anak dari berbagai bentuk tindakan yang mengancam keselamatan mereka.  Oleh karena itu, sebagai orang tua katolik, baiklah kita menciptakan situasi yang nyaman dan aman di dalam rumah sebagai benteng pertahanan yang pertama dan utama bagi seluruh anggota keluarga. Segala bentuk kekerasan dalam rumah yang mengakibatkan ketidaknyamanan bagi seluruh anggota keluarga, hendaknya dijauhkan. Mari belajar dari Maria dan Yosef, menjadi pelindung bagi anggota keluarga dan KUB.  

 

PELAKSANAAN PERTEMUAN

 

1.  Pengantar oleh Fasilitator

F: Saudara-saudari yang terkasih…

Kita akan bicara tema yang keempat, yang diambil dari Surat Gembala Uskup Agung Ende. Tema kita malam ini adalah Gereja melawan tindak perdagangan orang. Kita pasti pernah nonton berita atau dengar, bahwa ada saudara-saudara kita yang bekerja di perantauan, teristimewa di negara tetangga, pulang dalam keadaan sudah menjadi jenazah. Paling banyak korban berasal dari Nusa Tenggara Timur (dapat dibaca data yang ada di gagasan pokok di atas).

Banyak orang yang harus meninggalkan kampung halamannya, keluarga dan orang-orang disayangi hanya untuk pergi menyambung hidup, demi memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga.

Tapi ada banyak pihak yang memanfaatkan situasi ini untuk memperkaya diri. Martabat dan derajat kita sebagai manusia tidak dihargai lagi dan lebih tragis: nyawa menjadi taruhan. Mari kita bergerak bersama untuk memerangi tindak pidana perdagangan orang. Mari kita membuka pertemuan ini dengan menyanyikan sebuah lagu.

2.Lagu Pembuka: Madah Bakti no. 317,  Hanya PadaMu Tuhan.

3.Tanda Salib dan Salam

4.Doa Pembuka

Allah yang mahamurah pada kesempatan ini kami  berkumpul untuk saling memeguhkan dalam terang sabdaMu. Banyak hal yang telah kami alami dalam seluruh peziarahan hidup kami. Ada yang menyenangkan namun juga ada hal yang membuat kami sedih. Meskipun demikian kami tidak pernah putus asa, sebab kami yakin dan percaya bahwa Engkau selalu ada untuk membebaskan kami dari segala macam bahaya. Kami mohon hadirlah bersama kami kini dan di sini. Bukalah mata hati kami untuk saling membantu dan meneguhkan. Terutama buatlah kami menjadi orang tua yang bertanggungjawab atas nasib dan kehidupan keluarga serta anak-anak kami, sehingga kami semua terbebas dari bahaya-bahaya dunia ini. Sebab hanya Engkaulah, Tuhan dan juruselamat yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin.

5.Bacaan Kitab Suci: Mat. 1:13-18 (dapat dibacakan bergantian).

6.Pendalaman Kitab Suci

F: Sekarang kita bersama-sama mendalami isi kitab suci yang baru saja kita baca. Beberapa pertanyaan berikut kiranya dapat menuntun kita dalam proses pendalaman:

  1. Siapa saja tokoh yang terdapat dalam bacaan tadi? (Orang-orang Majus, Malaikat Tuhan, Yesus, Maria, Yusuf, Herodes dan Rahel)
  2. Apa isi perintah kepada Yusuf yang dikatakan oleh Malaikat Tuhan dalam mimpi? (Bangunlah, ambilah anak itu serta Ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggalah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari anak itu untuk membunh Dia)
  3.  Apa reaksi atau tanggapan Yusuf setelah mendapat perintah dari Malaikat Tuhan? (Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya itu juga, lalu menyingkirlah ke  Mesir)
  4. Sebagai keluarga Katolik terutama kita sebagai orang tua, apa pesan yang dapat kita pelajari dari Yusuf? (Bersyukur kepada Allah yang selalu memiliki cara untuk membebaskan dan menyelamatkan kita sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yusuf kepada Maria dan Yesus.)

7.Sharing pengalaman hidup

F: Saudara-saudari terkasih

Kita telah mendalami teks kitab suci tadi dan kini mari kita saling membagi pengalaman iman teristimewa bagaimana kita menghadapi situasi perdagangan orang yang semakin marak di daerah kita. Beberapa pertanyaan berikut dapat menuntun kita.

a.    Bagaimana perasaan kita ketika melihat, membaca atau mendengar berita-berita terkait dengan saudara-saudari kita yang menjadi korban perdagangan orang ini?

b.    Ceritakanlah, apakah di lingkungan masyarakat atau KUB kita, ada keluarga, tetangga atau kenalan kita yang pernah menjadi korban atau pelaku dari perdagangan orang?

c.     Apa kita bersedia untuk terlibat secara aktif dalam memerangi masalah perdagangan orang?

d.    Ceritakanlah langkah-langkah apa yang dapat kita lakukan untuk melawan perdagangan orang ini!

8. Rencana Tindak Lanjut

Bersama semua peserta, fasilitator dapat menentukan bersama aksi-aksi nyata yang akan dibuat, dalam rangka mencegah dan melawan kejahatan perdagangan orang, di dalam KUB dan dalam keluarga masing-masing.  Juga dapat dibuat aksi-aksi nyata untuk membantu keluarga yang menjadi korban tindakan perdagangan orang.

9. Penegasan oleh Fasilitator

Sebagai penutup dari pertemuan, Fasilitator dapat menegaskan beberapa hal seperti: tingginya angka kematian para perantau, banyaknya keluarga yang menjadi korban perdagangan orang – baik yang ada di tempat rantau, maupun keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman – lalu dilanjutkan dengan usaha-usaha untuk mengatasi kejahatan tersebut.

9.Doa Penutup

Ya Allah yang maharahim, kami mengucap syukur untuk berkat serta penyertaan-Mu dalam pertemuan ini. Kiranya apa yang kami sharingkan ini, membantu dan menggerakkan hati kami untuk peduli terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar kami. Jauhkanlah keluarga, sahabat dan anak-anak kami dari masalah perdagangan orang. Berilah kami kekuatan agar tetap menaruh harapan hanya kepada-Mu satu-satunya Tuhan kami yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin.

10.       Lagu Penutup: Madah Bakti no. 533, Tingkatkan karya serta karsa 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Hari Minggu Adven III

ACARA MUSYAWARAH PLENO DEWAN PASTORAL STASI ST.PIUS X BATAWA TAHUN PASTORAL 2023 / 2024